Pesan Sajak Sebatang Lisong WS Rendra

Pesan sajak sebatang lisong
Pesan sajak sebatang lisong

Pesan Sajak Sebatang Lisong – Hai Sahabat Ayo! Saat ini kita hidup di zaman yang semakin modern. Nampaknya akan dihadapkan dengan berbagai persoalan kemanusiaan. Masalah tersebut muncul dari aspek budaya, politik, agama, ekonomi dan perubahan iklim yang cukup ekstrim.

Pesan sajak sebatang lisong dari Rendra ini merupakan potret realitas persoalan kehidupan yang muncul di sekeliling kehidupannya. Serta problematika yang hadir di tengah-tengah hiruk pikuk kehidupan masyarakat atau bangsa. Persoalan tersebut ditangkap oleh seorang penyair yang gelisah dan resah melihat apa yang terjadi.

Read More

Di dalam kegelisahan itulah penyair mengambil sebuah sikap untuk melawan dengan mengemukakan kegelisahan nya lewat sebuah karya sastra yang bernama puisi.

Sahabat Ayo, pernahkah kalian membaca puisi-puisi WS. Rendra di saat melakukan perlawanan setelah geram melihat realita persoalan kehidupan yang muncul? Jika ternyata kalian masih asing dengan sajak-sajak atau puisi Rendra, maka pada kesempatan kali ini tim ayojawab.com akan menyajikan salah satunya, yaitu yang berjudul “Sajak Sebatang Lisong”.

Tapi sebelumnya, ada baiknya juga kita mengenal lebih dekat WS Rendra.

Sajak Sebatang Lisong

Bagi kalian yang penasaran mengenai sajak sebatang lisong karya WS Eendra, silahkan anda simak dengan baik bait-bait berikut ini!

Sajak Sebatang Lisong

Menghisap sebatang lisong
melihat Indonesia Raya,
mendengar 130 juta rakyat,
dan di langit
dua tiga cukong mengangkang,
berak di atas kepala mereka

Matahari terbit.
Fajar tiba.
Dan aku melihat delapan juta kanak-kanak
tanpa pendidikan.

Aku bertanya,
tetapi pertanyaan-pertanyaan ku
membentur meja kekuasaan yang macet,
dan papan tulis-papan tulis para pendidik
yang terlepas dari persoalan kehidupan.

Delapan juta kanak-kanak
menghadapi satu jalan panjang,
tanpa pilihan,
tanpa pepohonan,
tanpa dangau persinggahan,
tanpa ada bayangan ujungnya.
…………………
Menghisap udara
yang disemprot deodorant,
aku melihat sarjana-sarjana menganggur
berpeluh di jalan raya;
aku melihat wanita bunting
antri uang pensiun.

Dan di langit;
para tekhnokrat berkata :

bahwa bangsa kita adalah malas,
bahwa bangsa mesti dibangun;
mesti di-up-grade
disesuaikan dengan teknologi yang diimpor

Gunung-gunung menjulang.
Langit pesta warna di dalam senjakala
Dan aku melihat
protes-protes yang terpendam,
terhimpit di bawah tilam.

Aku bertanya,
tetapi pertanyaanku
membentur jidat penyair-penyair salon,
yang bersajak tentang anggur dan rembulan,
sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya
dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan
termangu-mangu di kaki dewi kesenian.

Bunga-bunga bangsa tahun depan
berkunang-kunang pandang matanya,
di bawah iklan berlampu neon,
Berjuta-juta harapan ibu dan bapak
menjadi gemalau suara yang kacau,
menjadi karang di bawah muka samodra.
………………

Kita harus berhenti membeli rumus-rumus asing.
Diktat-diktat hanya boleh memberi metode,
tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan.
Kita mesti keluar ke jalan raya,
keluar ke desa-desa,
mencatat sendiri semua gejala,
dan menghayati persoalan yang nyata.

Inilah sajakku
Pamplet masa darurat.
Apakah artinya kesenian,
bila terpisah dari derita lingkungan.
Apakah artinya berpikir,
bila terpisah dari masalah kehidupan.

19 Agustus 1977
ITB Bandung
Potret Pembangunan dalam Puisi

Pesan Sajak Sebatang Lisong

Pesan sajak sepasang lisong pastinya sangat mendalam. Setiap kegelisahan merupakan pergulatan kehidupan yang Pesan sajak sepasang lisong pastinya sangat mendalam. Setiap kegelisahan merupakan pergulatan kehidupan yang selalu membutuhkan perjuangan, air mata, kesedihan, pengkhianatan dan lain sebagainya. Pada akhirnya kegelisahan yang muncul tersebut menjadi sebuah bentuk dari sikap melawan terhadap kondisi sosial yang terjadi pada jantungnya masyarakat.

Pesan sajak sebatang lisong
Pesan sajak sebatang lisong

Realitas kehidupan sosial akan selalu menampilkan persoalan yang menyayat rasa, menguras air mata, menyesakkan dada. Pesan sajak sebatang lisong dari Rendra kiranya hendak menyuarakan kegelisahan muncul sebagai cerminan dari sikap seorang penyair terhadap apa yang ia lihat dan ia ikut merasakan nya.

WS Rendra benar-benar terusik dengan berbagai persoalan kehidupan yang dihadapi Bangsanya. Ia saksikan sendiri bahwa sebagian besar rakyat kecil terpuruk, lemah, tak berdaya, dan merasakan kesulitan luar biasa dalam hal perekonomian.

Pesan sajak sebatang lisong adalah ingin menyampaikan bahwa rakyat kecil sedang berhadapan dengan masalah sosial yang membuat kehidupannya semakin sempit, seperti banyaknya pengangguran, pendidikan mahal, peluang untuk bekerja susah. Lalu apalah guna seni dan kemajuan teknologi jika tidak dapat membantu kesulitan itu semua?

Profil Singkat WS Rendra

Ayahnya merupakan seorang guru Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa pada sekolah Katolik, di Solo, selain itu juga sebagai dramawan tradisional; sedangkan ibunya adalah seorang penari serimpi di keraton Surakarta. Kehidupan saat kecil sampai remaja Rendra dihabiskannya di kota kelahirannya itu.

“Rendra, sebenarnya memiliki nama asli Willibrordus Surendra Broto, ia dilahir di Solo pada tanggal 7 November 1935. Kedua orang tuanya bernama ayah R. Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo dan Ibu Raden Ayu Catharina Ismadillah”.

Rendra memulai pendidikannya dari TK (1942) hingga menyelesaikan sekolah menengah atasnya, SMA (1952), di sekolah Katolik, di kota yang sama. Setelah selesai SMA ia pergi ke Jakarta dengan tujuan belajar pada sekolah Akademi Luar Negeri. Ternyata akademi tersebut telah tutup.

Pada akhirnya ia pergi ke Yogyakarta dan kuliah di Fakultas Sastra, Universitas Gajah Mada. Meskipun tidak selesai dengan kuliahnya, bukan berarti cita-citanya untuk belajar berhenti. Tepatnya pada tahun 1954 Rendra memperdalam pengetahuanya dalam bidang drama dan tari di Amerika dengan dibiayai oleh American Academy of Dramatical Art (AADA).

Pesan sajak sebatang lisong di atas semoga bisa menjadi refleksi bagi perjalanan bangsa ini. Mari terus berpuisi. Mari bersuara Seperti Rendra!

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *