Contoh Penerapan Project Based Learning di SD Kelas 5

Contoh penerapan project based learning di SD Kelas 5
Contoh penerapan project based learning di SD Kelas 5

Contoh Penerapan Project Based Learning di SD Kelas 5 – Hallo Sobat Pendidik! Model pembelajaran Project Based Learning (PjBL) saat ini telah menjadi ciri khas dari Kurikulum Merdeka. Maka bagi bapak/ibu guru yang mana unit kerjanya telah menerapkan kurikulum merdeka tersebut, perlu melakukan banyak eksplorasi mengenai langkah-langkah implementasi model-model pembelajaran yang direkomendasikan.

Contoh penerapan project based learning di SD kelas 5 yang disajikan pada laman ayojawab.com ini kami khususkan sebagai gambaran contoh sintaks yang bisa bapak/ibu guru terapkan dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) sehari-hari. Tentunya bapak/ibu guru bisa mengembangkannya lebih lanjut sesuai kebutuhan dan karakteristik mata pelajaran yang diampu.

Read More

Namun sebelum kita menyimak contoh penerapan project based learning di SD kelas 5, kami memandang perlu untuk menyampaikan beberapa hal terkait model pembelajaran project based learning, terutama bagi bapak/ibu guru yang selama ini belum terbiasa mengimplementasikan model project based learning tersebut. Beberapa hal yang akan kita ulas di antaranya:

(1) Pengertian model pembelajaran project based learning

(2) Perbedaan project based learning dengan pembelajaran konvensional

(3) Prosedur pembelajaran

(4) Sintak atau langkah-langkah pembelajaran project based learning

(5) Contoh penerapan project based learning di SD kelas 5

(6) Kelebihan dan kekurangan model project based learning

(7) Urgensi penerapan kurikulum merdeka

Sekarang mari kita simak satu-persatu ulasan berikut ini.

Apa Itu Model Project Based Learning?

Pengertian model project based learning (PjBL) secara umum adalah model pembelajaran yang akan mengajak peserta didik untuk membuat suatu proyek yang menghasilkan produk dari pemikiran dari peserta didik secara mandiri. Pembelajaran dengan model project based learning (PjBL) akan fokus pada konsep-konsep yang melibatkan siswa dalam investigasi pemecahan masalah dan kegiatan tugas-tugas bermakna yang lain.

Siswa akan diberikan kesempatan untuk belajar atau bekerja melaksanakan tugas proyek secara otonom dalam mengkonstruksi pengetahuan mereka sendiri sampai dengan menghasilkan produk yang nyata. Sekarang mari kita tinjau beberapa pengertian dari model project based learning yang disampaikan para ahli.

Menurut John (2008)
Project Based Learning diartikan sebagai pembelajaran yang lebih menekankan pada pemecahan problemotentik yang terjadi sehari‐hari, yang mana hal ini dilaksanakan melalui pengalaman belajar praktik langsung di masyarakat.

Menurut Gijbels (2005) 
Gijbels mengartikan project based learning sebagai:

  • pembelajaran berbasis proyek
  • pendidikan berbasis pengalaman
  • pembelajaran yang berakar pada masalah‐masalah kehidupan
    nyata.

Dengan kata lain, project based learning beliau pandang sebagai cara pembelajaran yang bermuara pada proses pelatihan berdasarkan masalah‐masalah nyata yang dilakukan sendiri melalui kegiatan tertentu (proyek).

Menurut Levin (2001)
Sementara Levin menyatakan bahwa:

“Project Based Learning is an instructional method that encourages learners to applycritical thinking, problem solving skill, andcontent knowledge to real world problems and issues”.

Atau dengan kata lain project based learning adalah metode pembelajaran yang mendorong para peserta didik untuk menerapkan cara berpikir yang kritis, keterampilan menyelesaikan masalah, dan memperoleh pengetahuan mengenai problem dan isu‐isu riil yang dihadapinya.

Perbedaan PjBL Dengan Pembelajaran Konvensional

Perbedaan model project based learning dengan model pembelajaran konvensional sebenarnya mudah sekali untuk kita dapati. Hal ini bisa kita lihat dari sisi aktivitas guru dan murid. Perhatikan tabel berikut ini!

Perbedaan Model Project Based Learning dan Konvensional

Model Project Based Learning

Model Konvensional

Dikembangkan berdasarkan metode konstruktivisme, dimana peserta didik dituntut untuk menyusun sendiri pengetahuannya Dikembangkan berdasarkan metode ekspositori, dimana murid sepenuhnya mendapatkan pengetahuan dari guru
Para peserta didik diberikan kebebasan untuk merencanakan aktivitas belajar Rencana aktivitas belajar peserta didik dipandu oleh guru
Melaksanakan proyek secara kolaboratif dan menghasilkan produk kerja yang dapat dipresentasikan Tidak ada tuntutan untuk menghasilkan suatu hasil proyek
Guru berperan sebagai fasilitator Guru sebagai sumber informasi langsung kepada peserta didik.
Membiasakan peserta didik belajar secara kolaboratif Terbiasa dengan situasi kelas individual
Penilaian dilakukan secara autentik Penilaian lebih dominan pada aspek hasil daripada proses
Sumber belajar bisa sangat berkembang Sumber belajar cenderung stagnan.

Beberapa perbedaan di atas akan berdampak pula pada aktivitas saat di kelas. Misalnya guru harus membentuk kelompok kerja dan suatu ketika harus belajar di luar kelas yang mana membutuhkan kesiapan dari guru jika hendak menerapkan model project based learning.

Langkah-langkah Project Based Learning 

Sintaks atau langkah-langkah model project based learning terdiri dari 6 (enam) langkah berikut:

  1. Connecting the problem

Pada langkah ini peserta didik dibagi dalam kelompok‐kelompok kecil, dan masing masing
kelompok akan melaksanakan proyek nyata.

  1. Setting the structure

Pada langkah ini masing-masing kelompok diberikan penjelasan tentang tugas dan tanggung jawab yang harus dilakukan oleh kelompoknya dalam praktik.

  1. Visiting the problem

Pada langkah ini peserta didik di masing‐masing kelompok berusaha maksimal untuk mengidentifikasikan masalah yang dihadapi sesuai pengetahuan yang dimiliki dan mengidentifikasi cara untuk memecahkan masalah.

  1. Re‐visiting the problem

Pada langkah ini peserta didik di masing‐masing kelompok mencari informasi dari berbagai sumber (buku, pedoman dan sumber lain) atau bertanya pada pakar yang mendampingi untuk mendapatkan pemahaman tentang masalah yang dipecahkan.

  1. Produce the product

Berbekal informasi yang diperoleh dari tahap sebelumnya, peserta didik akan saling bekerjasama dan berdiskusi dalam memahami masalah dan mencari solusi terhadap masalah dihadapi, serta langsung diaplikasikan. Adapun guru bertindak sebagai pendamping.

  1. Evaluation

Pada tahap ini masing‐masing kelompok mensosialisasikan pengalaman dalam memecahkan masalah. Tujuannya adalah untuk mendapatkan masukan dan penilaian dari kelompok lainnya.

Contoh Penerapan Project Based Learning di SD Kelas 5

Contoh penerapan project based learning di SD kelas 5 bisa kita lihat dari langkah-langkah atau sintaks pembelajaran yang diterapkan oleh guru. Tetapi sebelum memulai untuk menyusun langkah-langkah penerapan project based learning di SD kelas 5, para guru juga perlu memahami siklus pembelajaran dengan model project based learning.

Perhatikan bagan berikut ini!

Desain contoh penerapan project based learning di SD Kelas 5
Desain Siklus Penerapan Project Based Learning di SD Kelas 5

Bagan di atas merupakan prosedur pembelajaran yang menggambarkan alur pembelajaran yang dimulai dari penyampaian masalah kepada peserta didik sampai dengan kegiatan evaluasi kinerja yang dicapai. Silahkan siklus atau pola tersebut dapat dijadikan acuan jika bapak/ibu guru menghendaki untuk menerapkan model project based learning.

Berikut ini kami berikan contoh penerapan project based learning di SD kelas 5. Silahkan Anda perhatikan langkah-langkah pembelajaran yang harus dilakukan oleh guru maupun oleh murid dalam setiap tahap pembelajarannya.

Contoh Penerapan Project Based Learning di SD Kelas 5 di RPP

(1) Identitas Sekolah Dan Mata Pelajaran

Unit Sekolah: SD N 1 Kotagede Yogyakarta

Kelas/Semester: V/I

Tema: 5. Ekosistem

Sub Tema: Hubungan Antara Makhluk Hidup dan Ekosistem

Pembelajaran: 1

Alokasi Waktu: 6 x 35 menit

Hari/Tanggal Pelaksanaan: Selasa, 8 Oktober 2022

(2) Deskripsi Tugas Proyek

Dengan metode project based learning murid secara berkelompok akan membuat suatu bagan/gambar urutan rantai makanan dan dipresentasikan.

(3) Kegiatan Inti Pembelajaran

Kegiatan inti pembelajaran tergambar dalam langkah-langkah penerapan project based learning  berikut ini:

Sintaks

Aktivitas Guru

Aktivitas Murid

Connecting the problem (1) Guru membentuk kelompok-kelompok murid yang akan melaksanakan tugas proyek

 

(2) Guru menampilkan teks/PPT tentang rantai makanan dan melakukan tanya jawa untuk menstimulus pengetahuan murid

(3) Guru menyampaikan beberapa pertanyaan stimulan:

(a) Menurut pendapatmu apakah yang dimaksud dengan rantai makanan?

(b) Apakah yang mempengaruhi kondisi sebuah rantai makanan?

(c) apa perbedaan jaring-jaring makanan dengan rantai makanan?

(1) Murid duduk berkelompok sesuai kelompok masing-masing.

(2) Murid memperhatikan PPT yang ditampilkan oleh guru

(3) Murid menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan oleh guru

Setting the structure Guru menampilkan melalui PPT mengenai tugas proyek yang akan dikerjakan oleh masing-masing kelompok, dan memberikan penegasan kembali mengenai hal-hal yang berkaitan dengan rantai makan sebagaimana yang telah disinggung dalam tanya jawab sebelumnya.

 

Murid menerima penjelasan dan menanyakan hal-hal yang belum jelas terkait penugasan proyek
Visiting the problem (1)  Guru meminta murid untuk berdiskusi dan memikirkan mengenai tuas proyek yang diberikan

(2)  Guru memastikan bahwa setiap kelompok telah memahami rangkaian tugas proyek yang harus diselesaikan

Murid berdiskusi dan saling memahamkan anggota kelompoknya mengenai tugas proyek yang baru saja diberikan oleh guru
Re‐visiting the problem (1)  Guru meminta murid untuk memperkaya pengetahuan mengenai rantai makan melalui bahan bacaan maupun video pembelajaran yang dapat diakses di kelas.

(2)  Guru meminta murid untuk membuat catatan-catan kecil mengenai informasi  penting yang berguna dan dibutuhkan dalam menyusun konten proyek

(1)  Murid berusaha keras secara mandiri untuk menemukan informasi-informasi penting dari buku bacaan maupun video pembelajaran

(2)  Murid mencatat informasi-informasi penting yang dibutuhkan untuk menyelesaikan proyek.

 

 

Produce the product Guru mempersilakan murid-murid untuk mulai mengerjakan tugas proyek yang diberikan Murid bekerjasama dalam kelompoknya masing-masing untuk menyelesaikan tugas sesuai batas waktu proyek tersebut yang diberikan
Evaluation (1)  guru meminta perwakilan kelompok mempersentasikan hasil tugas proyeknya

(2)   Guru dan kelompok lain memberi tanggapan.

Perwakilan kelompok presentasi dan mensosialisasikan pengalaman nya dalam mengerjakan tugas proyek tersebut

Contoh penerapan project based learning di SD kelas 5 di atas pastinya masih dapat Anda kembangkan lebih lanjut dengan menyesuaikan kebutuhan dan karakteristik murid-murid yang Anda ajar. Namun secara garis besar contoh Penerapan Project Based Learning di atas sudah biasa Anda dapat jadikan sebagai acuan. Berikutnya kita akan bahas mengenai kelebihan dan kekurangan penerapan project based learning. 

Kelebihan dan kekurangan Penerapan PjBL

Kelebihan penerapan project based learning antara lain disampaikan oleh Djamarah & Zain (2006), yaitu sebagai berikut:

(a) Dapat merombak pola pikir murid dari yang sempit menjadi lebih luas dalam memandang dan memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan.

(b) Dapat membina murid menerapkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan terpadu, yang diharapkan akan berguna dalam kehidupan sehari-hari bagi murid.

(c) Penerapan PjBL dipandang sesuai dengan prinsip-prinsip didaktik modern.

(d) Meningkatkan motivasi, dimana murid tekun dan berusaha keras dalam mencapai proyek

(e) Meningkatkan kemampuan pemecahan masalah yang kompleks

(f) Meningkatkan kemampuan kolaborasi dan mengembangkan keterampilan komunikasi

(g) Meningkatkan keterampilan mengelola sumber dan mengorganisir proyek.

Adapun kekurangan atau kendala yang dihadapi disaat penerapan project based learning dikemukankan oleh Susanti (2008). Berdasarkan pengalaman yang ditemukan di lapangan, project based learning memiliki beberapa kekurangan di antaranya:

(a) Kondisi kelas agak sulit di kontrol dan mudah menjadi ribut saat pelaksanaan proyek, karena adanya kebebasan pada murid. Hal itu memberi peluang untuk ribut, dan untuk itu diperlukannya kecakapan guru dalam penguasaan dan pengelolaan kelas yang baik.

(b) Walaupun sudah mengatur alokasi waktu yang cukup, masih saja memerlukan waktu yang lebih banyak untuk pencapaian hasil yang maksimal.

Contoh penerapan project based learning di SD kelas 5 yang kami sajikan ini tentunya masih memerlukan penyempurnaan. Silahkan bagi bapak ibu guru untuk menindaklanjuti langkah-langkah pembelajaran yang sudah kami jabarkan. Pada prinsipnya pada PjBL, pembelajar lebih diarahkan untuk melakukan kegiatan desain, yakni merumuskan ‘job”, merancang/redesign, mengalkulasi, melaksanakan pekerjaan dan mengevaluasi hasil.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *